SIDOARJO – Kenaikan harga tepung tapioka yang kian tak terkendali mengancam kelangsungan hidup para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) kerupuk di Sidoarjo. Kenaikan biaya bahan baku utama ini memaksa produsen memangkas operasional demi menekan kerugian.
Persoalan krusial ini mengemuka saat Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menggelar kunjungan lapangan ke rumah produksi kerupuk UD Purnama di Sidoarjo, Kamis (22/10/2026).
“Lonjakan harga bahan baku itu membuat pelaku usaha mengurangi frekuensi produksi karena kenaikannya tidak sebanding dengan harga jual kerupuk,” kata sosok yang akrab disapa BHS tersebut di lokasi peninjauan.
Bambang Haryo membeberkan bahwa patokan harga tapioka meroket tajam dari semula Rp6.000 per kilogram menjadi Rp16.000 per kilogram. Kenaikan drastis ini dinilai janggal sebab ketersediaan singkong di dalam negeri tergolong aman.
Menanggapi keluhan tersebut, Bambang Haryo memastikan bakal memanggil Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian guna meminta penjelasan resmi. Tak hanya itu, ia berencana mengecek langsung sentra pengolahan di Lampung serta menggandeng Satgas Pangan dan Badan Pangan Nasional untuk menelisik jalur distribusi.
“Ini kenaikan yang sangat signifikan. Saya akan menanyakan persoalan ini kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian,” tegas Bambang Haryo.
Tekanan harga ini membawa dampak langsung bagi operasional UD Purnama. Nur Saidah selaku pemilik usaha mengaku terpaksa memotong hari kerja buruhnya meskipun tempat usahanya mampu mengolah hingga 1,7 ton kerupuk per hari.
“Biasanya satu minggu bisa produksi penuh. Sekarang hanya tiga atau empat hari. Kasihan karyawan kalau terus-menerus diliburkan,” tutur Nur Saidah.
Nur Saidah menyayangkan situasi ini karena posisi produsen sangat serbasalah. Kenaikan harga jual kerupuk dinilai sulit diterapkan mengingat daya beli masyarakat yang rentan, sehingga margin usaha kini makin terimpit.





