MAKASSAR — Pembangunan jalur dan penempatan stasiun kereta api di Sulawesi Selatan (Sulsel) mendapat sorotan tajam dari parlemen. Keberadaan stasiun yang berada jauh dari pusat kota maupun kecamatan dinilai menyulitkan aksesibilitas masyarakat pejalan kaki.
Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono menegaskan bahwa stasiun kereta api penumpang idealnya dibangun di pusat keramaian. Hal tersebut penting agar moda transportasi publik massal Trans-Sulawesi ini benar-benar ramah dan mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
“Ini kan Trans-Sulawesi yang tentu akan digunakan untuk kepentingan penumpang atau masyarakat pejalan kaki. Jadi, kereta ini atau rel kereta ini betul-betul harus ramah terhadap kebutuhan masyarakat luas, tapi rel ini sudah terlanjur dibuat dengan jalur yang menurut saya adalah salah,” ujar Bambang saat melakukan kunjungan kerja di Stasiun Mandai, Maros, Jumat.
Selain posisi stasiun, Ketua Dewan Pembina Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini juga mengkritisi teknis penggunaan lebar rel 1.435 mm. Ukuran tersebut dinilai kurang presisi untuk karakter geografis Sulsel yang didominasi jalur berkelok dan dataran tinggi.
Meski demikian, Bambang melihat kawasan Sulawesi dengan struktur tanah keras memiliki peluang besar bagi PT KAI untuk mengembangkan moda kereta api dibanding wilayah bergambut seperti Kalimantan. Ia pun mendesak evaluasi jalur baru dan berjanji mengawal kecukupan anggaran di DPR agar rute hingga Mamuju, Sulawesi Barat, dapat rampung minimal 50 persen di era pemerintahan saat ini.





