SURABAYA — Kenaikan harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional Surabaya menuai sorotan tajam. Berdasarkan pantauan di Pasar Medokan Sawah, harga komoditas penting ini melonjak hingga Rp 40.000 per kilogram.
Melambungnya harga pangan ini dikeluhkan berdampak buruk pada kelangsungan usaha pedagang. Pembeli kian berkurang karena beban pengeluaran rumah tangga yang semakin meningkat.
Sri Hartati, salah seorang pedagang di pasar tersebut, berharap agar harga ayam potong bisa segera pulih. Penurunan harga dinilai krusial demi mendongkrak kembali minat belanja masyarakat.
“Sudah beberapa hari terakhir ini harga daging ayam Rp 40 ribu per kilonya. Harapannya bisa turun lagi sehingga lebih ramai pembeli,” kata Sri Hartati saat ditemui, Selasa (13/10/2026).
Permasalahan ini menarik perhatian Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, yang turun langsung meninjau pasar. Ia menyoroti tajam ketimpangan harga yang terjadi antara produsen di tingkat peternak dan konsumen di pasar.
Bambang mengungkapkan, peternak saat ini menjual ayam di kisaran Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Padahal, biaya produksi riil atau HPP peternak sudah membengkak hingga Rp 23.000 per kilogram.
“Menurut Menteri Pertanian, harga di peternak hanya Rp 19.000. Itu pun bisa turun lagi, tapi oleh pemerintah dipatok di Rp 19.000 supaya peternak tidak mati,” ucap Bambang.
Melihat disparitas harga yang terlampau jauh, politisi tersebut mendesak aparat dan instansi terkait mengusut tuntas jalur distribusi. Penyelidikan mendalam diperlukan guna membasmi potensi spekulasi harga di pasaran.
“Tapi kenapa harga di pasar harganya naik jadi Rp 40.000? Ini tugas dari Badan Pangan Nasional atau Satgas Pangan untuk melakukan penyidikan ini. Tidak boleh sampai terjadi seperti ini,” pungkasnya.





