Air Hujan Bondowoso Tercemar Mikroplastik, Santriwati PP Nurussalam Beberkan Sumber Pencemarannya

Rabu, 19 Nov 2025 22:12 WIB
Air Hujan Bondowoso Tercemar Mikroplastik, Santriwati PP Nurussalam Beberkan Sumber Pencemarannya

Bondowoso ° Brilian News.id – Air hujan di Kabupaten Bondowoso teridentifikasi tercemar mikroplastik. Temuan ini diungkap para santriwati Pondok Pesantren (PP) Nurussalam, Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan, melalui kegiatan penelitian lingkungan dalam Program Jawa Timur Young Changemaker (JAYCA) 2025.

Siti Fatimah, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa temuan tersebut berawal dari hasil uji mikroplastik pada air hujan yang mereka tampung di area pondok. “Awalnya kaget mengetahui air hujan di Bondowoso tercemar mikroplastik. Setelah melakukan pengamatan, kami menemukan perilaku masyarakat seperti pembakaran sampah, tumpukan sampah plastik, dan pembuangan sampah sembarangan sebagai sumber mikroplastik,” ujarnya.

Sebanyak 15 santriwati yang mengikuti program JAYCA saat ini sedang menyusun materi kampanye untuk mengajak masyarakat berperan dalam upaya mitigasi krisis iklim.

Penelitian berlangsung pada 18–19 November 2025 dan meliputi pelatihan pemantauan kualitas air, uji mikroplastik pada air hujan, serta identifikasi persoalan lingkungan yang berkaitan dengan krisis iklim.

Mentor JAYCA 2025, Prigi Arisandi, mengatakan bahwa program ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap krisis iklim dan mendorong mereka merancang solusi berbasis masalah nyata di lingkungan sekitar.

 

“Pemuda Jawa Timur harus menjadi bagian dari solusi global. Semuanya dimulai dengan memahami kondisi lingkungan tempat tinggal mereka,” katanya.

Dalam uji lapangan, para santriwati meneliti tiga sampel air hujan dari Badean, Koncer, dan Sumber Kemuning. Sebagai pembanding, mereka juga menguji air galon isi ulang.

 

Hasil pengujian mikroplastik (partikel per liter):

 

 

Cindi Yuniantika, salah satu peneliti muda, menjelaskan bahwa partikel yang ditemukan didominasi jenis fiber berukuran di bawah 5 mm. Mereka menggunakan mikroskop dengan pembesaran 40–100 kali untuk mengidentifikasi partikel tersebut.

Selain air hujan, tim juga menguji air Sungai Kemuning dan Bendungan Kemuning. Hasilnya, ditemukan lebih dari 41 partikel mikroplastik pada sampel air sungai dan 26 partikel pada air sumber.

Dalam observasi lapangan sepanjang 1 kilometer, para santriwati menemukan lima sumber utama penyebaran mikroplastik, yaitu:

 

1. Pembakaran sampah plastik secara terbuka di lingkungan rumah warga.

2. Sampah plastik tercecer di jalan, terdata 925 potong sampah plastik dalam berbagai bentuk.

3. Penumpukan sampah di saluran air, yang menyebabkan penyumbatan dan terurai menjadi mikroplastik.

4. Pembuangan sampah liar di area perkebunan, yang mudah terpapar angin dan hujan.

5. Sampah plastik terapung di Sungai Sumber Kemuning, seperti popok, tas kresek, botol, dan styrofoam.

Dalam upaya mengajak masyarakat ikut bergerak, para santriwati merumuskan enam aksi konkret:

1. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

2. Menggunakan wadah guna ulang seperti tumbler, rantang, dan tas kain.

3. Membuat poster edukasi untuk tidak membuang sampah ke sungai.

4. Mendorong penambahan fasilitas tempat sampah.

5. Mengampanyekan penghentian pembakaran sampah plastik.

6. Menggunakan media sosial untuk kampanye pengurangan plastik.

 

Program JAYCA 2025 di PP Nurussalam menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dan riset sederhana dapat menghasilkan temuan penting, sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam memerangi krisis iklim dan pencemaran plastik di tingkat lokal.

 

Pos terkait