Play Video Diatas ☝️☝️☝️
Lumajang | Brilian-news.id,-Dengan ramainya masyarakat tidak terima dengan hasil keputusan juri karnaval perayaan HUT RI Ke-79 di kecamatan Ranuyoso, hingga saat ini masih menjadi perdebatan di media sosial.
Dalam informasi yang kami dapatkan, antara panitia dan peserta banyak kesalahpahaman yang disebabkan miskomunikasi, sehingga membuat semua pihak yang berpartisipasi merasa dirugikan dengan hasil keputusan juri yang berubah-ubah atau tidak konsisten dalam penilaian.
Saat kami melakukan konfirmasi kepada salah satu peserta yang menjadi korban hujatan masyarakat ( MALINDO Ranubedali) H .Sholihin dan Hj. Wita Wijayanti menyampaikan, “kami selaku peserta hingga saat ini menjadi korban hujatan masyarakat, saya memang komplain terkait karnaval tersebut, soalnya tidak ada nilai pada kami, tanpa konfirmasi kepada kami, kami tiba-tiba di tempatkan nomer 1di kelompok favorit, saya komplain karena saya tidak mau, saya ingin sama dengan yang lain dan masuk dalam kompetisi tersebut, kalau memang ada peserta terbaik atau terfavorit, kok bisa ada 2 di dalamnya dan nomer 2 setelah dinilai, nilainya jauh dari kami,” jelasnya.
Dan Hj. Wita Wijayanti juga menambahkan melalui pesan WA, “Setelah saya tanya ke p. Camat
1, pak kenapa juara favorit ada 2 , sedangkan nilai favorit ke 2 lebih rendah dari peserta lain. Jawab pak camat , “ karena favorit adalah peserta yang berkontribusi Jawabnya
2, pak camat jika ada 10 donatur yg berkontribusi apakah akan jadi juara favorit juga ? Jawab pak camat “ iya jawabnya. Jadi dengan alasan ini saya menolak keras jadi juara favorit, karna saya merasa tidak pernah berkontribusi, tidak menyumbang apa pun, itulah alasan saya menolak, namun jika juara favorit cm 1 yang nilai tertinggi saja Malindo Insaallah bisa menerima karena tidak ada hubungan dengan sumbangan”, pesannya.
“Namun hingga saat ini kejujuran atau keterangan yang kami minta kepada panitia dan juri bukan menjadikan lebih baik, protes kami malah menjadikan masyarakat menuduh kami menyuap pihak kecamatan”, imbuhnya.
Dan selanjutnya kami melakukan konfirmasi kepada camat Ranuyoso MASRUHIN, S.Sos, menyampaikan, “ini kesalahan saya, dan hanya kesalahan miskomunikasi antara panitia dan peserta, Malindo Ranubedali sengaja saya taruh di nomer 1 favorit karna Malindo adalah peserta terbaik Se-Kecamatan dan saya bertujuan mengumumkan di acara penyerahan hadiah dan bonus khusus untuk Malindo, namun untuk favorit ke 2, adalah peserta yg berkontribusi, nomer 2 itu harusnya di posisikan sebagai peserta kehormatan yang sudah mau membatu dan mendukung berlangsungnya kegiatan ini, di situlah kami mengalami miskomunikasi”, terangnya sembari menunjukkan wajah capeknya.
“Mengenai bahasa suap kepada kami, kami tidak merasa disuap atau menerima suap dari pihak mana pun, masak cuma acara perayaan yang hadiahnya tidak seberapa bisa menimbulkan kecurigaan suap-menyuap”, tambahnya.
Dengan adanya kejadian tersebut, dan dari video media social yang beredar, kami selaku awak media menyayangkan karna tidak kelihatan pihak APH yang mengamankan kejadian tersebut, seharusnya Muspika lengkap wajib ada di lokasi demi keamanan Camat, dan pihak korban hujatan berharap, pihak APH bisa melakukan tindakan terkait ini.
Dengan tidak ada penanganan dari pihak APH setempat hingga saat ini, korban menyampaikan, “saya langsung melaporkan ke Polres kabupaten Lumajang atas pencemaran nama baik saya”, tutupnya kepada Brilian-news.id





