Brilian°Yordania – Tentara Yordania membunuh setidaknya 27 penyelundup bersenjata dan melukai lainnya saat mereka melintasi perbatasan dari Suriah. Di tengah badai salju, para penyelundup tersebut membawa narkoba, dengan sebagian besarnya yakni amfetamin.
Sejumlah penyelundup narkoba lainnya sempat melarikan diri kembali ke Suriah selama penyeberangan. Meski, korban penyelundup yang tewas kali ini adalah salah satu yang terbanyak sejak jumlah insiden serupa meningkat tahun lalu.
“Beberapa lainnya di antara para penyelundup, yang didukung oleh kelompok-kelompok bersenjata lainnya, terluka,” kata pihak militer pada Kamis (27/1), seperti dikutip media ini,
“Kami akan menyerang dengan tangan besi, kepada siapa pun yang berani berpikir untuk merusak keamanan nasional kami,” imbuh pernyataan tersebut.
Insiden penyelundupan serupa yang banyak melibatkan baku tembak meningkat sejak tahun lalu. Ini mendorong tentara Yordania untuk memperketat aturan keterlibatan dengan penyelundup.
Tentara Yordania tidak merinci di mana sepanjang 370 km (230 mil) perbatasan dengan Suriah serangan terbaru terjadi. Tetapi sumber-sumber Suriah mengatakan, insiden itu terjadi di daerah timur laut kota Mafraq di Yordania.
Sumber menambahkan, beberapa kelompok penyelundup melintasi perbatasan dengan berjalan kaki di bawah naungan kabut tebal. Mereka kemudian ditembak di lokasi dalam penyergapan yang dilakukan para tentara.
Menurut sumber lainnya, dari setidaknya 80 penyelundup bersenjata yang terlibat dalam operasi skala besar, ada sekitar 50 yang hilang dan diyakini tewas.
Perbatasan utama Yordania dengan Suriah adalah rute regional utama yang membawa miliaran dolar perdagangan untuk negara-negara di kawasan itu. Perbatasan ini pun telah digunakan untuk menyelundupkan narkoba yang disembunyikan di truk-truk Suriah menuju pasar Teluk.
Obat-obatan tersebut sebagian besar adalah amfetamin yang dikenal sebagai Captagon. Suriah yang dilanda perang telah menjadi lokasi produksi utama kawasan itu untuk perdagangan multi-miliar dolar yang ditujukan ke Yordania, Irak, dan Eropa.
Menurut para ahli PBB dan diplomat Barat, perdagangan obat terlarang membiayai proliferasi milisi dan pasukan paramiliter pro-pemerintah yang telah melahirkan konflik selama satu dekade di Suriah.
Para pejabat Yordania mengatakan kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung Iran dan milisi yang menguasai sebagian besar Suriah selatan berada di balik penyelundupan dan mendukung operasi tersebut. Hizbullah membantah tuduhan itu.
Di sisi lain, pejabat senior Yordania mengatakan mereka telah menyampaikan keprihatinan mereka terkait hal ini kepada pihak berwenang Suriah dan Rusia, sekutu utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengatakan negara itu menjadi sasaran pengedar narkoba. Seorang perwira Yordania tewas dalam baku tembak dengan penyelundup beberapa hari sebelumnya.
Pihak berwenang Suriah dalam beberapa bulan terakhir mengumumkan sejumlah intersepsi besar obat-obatan yang ditujukan untuk pasar Teluk. Mereka pun memastikan akan menindak produksi Captagon dalam negeri.





