Anggota DPR Bambang Haryo Nilai Pariwisata Indonesia Kalah Bersaing di Asia Tenggara

Kamis, 22 Jan 2026 13:05 WIB
Anggota DPR Bambang Haryo Nilai Pariwisata Indonesia Kalah Bersaing di Asia Tenggara
Anggita DPR-RI Bambang Haryo saat diwawancarai TV Parlemen/Foto : Istimewa

Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono mengingatkan pemerintah bahwa posisi pariwisata Indonesia di kawasan Asia Tenggara terus tergerus. Ia menilai Indonesia masih kalah bersaing dalam menarik wisatawan mancanegara dibanding negara tetangga.

Hal itu disampaikan Bambang Haryo dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata di Gedung Nusantara I, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Ia mengungkapkan bahwa capaian kunjungan wisatawan Indonesia masih tertinggal jauh dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Menurut Bambang, Malaysia pada 2025 mencatat sekitar 38 juta wisatawan mancanegara, Thailand 39 juta wisatawan, sementara Vietnam telah mencapai 22 juta kunjungan. Padahal, kata dia, sebelumnya Vietnam berada di bawah Indonesia dalam jumlah kunjungan turis asing.

Bacaan Lainnya

“Malaysia pada 2025 merealisasikan 38 juta wisatawan, Thailand 39 juta, dan Vietnam sudah 22 juta. Padahal dulu Vietnam di bawah kita,” ujar Bambang.

Politisi Fraksi Partai Gerindra itu menilai salah satu penyebab utama menurunnya daya tarik pariwisata Indonesia adalah belum terintegrasinya sistem transportasi wisata. Ia menyebut, berbeda dengan negara tetangga, konektivitas moda transportasi di Indonesia masih belum menyatu hingga ke destinasi.

“Di Indonesia, dari bandara ke hotel saja sering masih harus menggunakan transportasi pribadi,” katanya.

Selain persoalan transportasi, Bambang juga menyoroti aspek keselamatan wisata, khususnya pada angkutan bus dan kapal wisata. Ia menilai masih banyak sopir bus pariwisata yang belum memiliki kompetensi keselamatan khusus, serta kapal wisata yang belum terdaftar di Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

Ia mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir sedikitnya terjadi enam insiden kapal wisata tenggelam yang membawa wisatawan. Namun, menurutnya, insiden tersebut belum diikuti dengan pembenahan serius di sektor keselamatan.

“Ini tidak boleh dibiarkan karena menyangkut keselamatan dan citra pariwisata Indonesia,” ujarnya.

Bambang juga mendorong pemerintah untuk membentuk polisi pariwisata khusus sebagaimana diterapkan di sejumlah negara ASEAN. Kehadiran aparat tersebut dinilai penting untuk meningkatkan rasa aman dan kenyamanan wisatawan.

“Indonesia perlu aparat khusus yang melindungi dan melayani wisatawan,” ucapnya.

Ia berharap tahun 2026 dapat menjadi momentum perbaikan besar sektor pariwisata agar Indonesia kembali mampu bersaing di tingkat Asia Tenggara.

Pos terkait