Merak – Keterbatasan jumlah dermaga di Pelabuhan Bakauheni kembali menjadi sorotan setelah Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, harus menunggu hingga tiga jam di atas kapal saat melakukan peninjauan arus balik Lebaran 2026.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Bambang Haryo menumpangi Kapal Dalom 1 dalam perjalanan dari Merak menuju Bakauheni pada Selasa (31/3). Kapal yang telah tiba di perairan Bakauheni tidak dapat segera bersandar akibat antrean panjang di dermaga.
Selama menunggu, seluruh penumpang terpaksa berada di atas kapal dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi penumpang yang memiliki jadwal lanjutan setelah tiba di pelabuhan.
“Saya mengikuti pelayaran Merak–Bakauheni dalam rangka peninjauan arus balik. Namun setelah sampai di perairan Bakauheni, kapal ini menunggu selama kurang lebih tiga jam,” ujar Bambang Haryo.
Dalam perjalanan tersebut, ia didampingi Ketua Gapasdap Merak, Togar Napitupulu. Dari hasil komunikasi di lapangan, diketahui bahwa lonjakan arus balik membuat operator pelayaran mengoperasikan kapal dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
Namun, keterbatasan dermaga membuat penambahan kapal tidak diimbangi dengan kapasitas sandar. Dalam kondisi normal, satu dermaga hanya melayani empat kapal, tetapi saat puncak arus balik meningkat menjadi enam kapal per dermaga.
Menurut Bambang Haryo, kondisi tersebut menyebabkan kapal harus antre di laut sebelum mendapat giliran bersandar. Dampaknya, waktu tempuh yang seharusnya hanya sekitar 1,5 jam membengkak menjadi lima jam.
“Karena dipaksakan enam kapal dalam satu dermaga, akhirnya kapal harus menunggu cukup lama mengapung di laut hingga tiga jam,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari total 72 kapal yang memiliki izin operasi di lintasan Merak–Bakauheni, hanya sekitar 28 kapal yang dapat beroperasi secara optimal. Sisanya tidak dapat dimanfaatkan karena keterbatasan fasilitas dermaga.
Kondisi ini dinilai sebagai bentuk ketidakseimbangan antara jumlah armada dan infrastruktur pelabuhan. Bambang Haryo menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi persoalan tersebut.
Selain berdampak pada kenyamanan, ia menilai kapal yang terlalu lama mengapung di laut juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan pelayaran.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Kapal yang terlalu lama menunggu di laut tentu memiliki risiko tersendiri,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia mendorong adanya pembangunan dermaga tambahan di Pelabuhan Bakauheni guna mengoptimalkan pemanfaatan kapal yang sudah tersedia.
Menurutnya, dengan penambahan dua pasang dermaga, kapasitas angkut penyeberangan dapat meningkat hingga sekitar 30 persen tanpa perlu menambah jumlah armada baru.
“Yang dibutuhkan bukan penambahan kapal, tetapi fasilitas pendukung berupa dermaga agar kapal yang ada bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.





