DLH Bandung Dorong Pemanfaatan Teknologi RDF dan Peran Warga untuk Kurangi Sampah

Sabtu, 15 Nov 2025 13:57 WIB
DLH Bandung Dorong Pemanfaatan Teknologi RDF dan Peran Warga untuk Kurangi Sampah

Brilian•BANDUNG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung terus memperluas penggunaan teknologi pengolahan sampah untuk menekan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus meningkatkan nilai guna sampah. Salah satu inovasi yang kini banyak dikembangkan adalah RDF atau Refuse Derived Fuel, bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah non-organik bernilai rendah.

Ketua Tim Pengurangan Sampah DLH Kota Bandung, Syahriani, menjelaskan bahwa RDF dapat digunakan oleh industri sebagai substitusi batubara sehingga sampah yang selama ini tidak termanfaatkan dapat diolah menjadi energi. “Metode RDF ini menjadi salah satu cara untuk mengubah sampah bernilai rendah menjadi energi yang bermanfaat. Industri bisa memakai RDF sebagai pengganti batubara,” ujar Syahriani saat menjadi narasumber dalam Talkshow Radio Sonata, Jumat 14 Desember 2025.

Saat ini, beberapa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) telah beroperasi dengan kapasitas cukup besar. TPST Tegallega mampu mengolah sekitar 25 ton sampah per hari menjadi RDF. Sementara itu, TPST Gedebage sedang ditingkatkan untuk memproses sampah organik melalui metode maggotisasi dan sampah anorganik menjadi RDF, dengan target kapasitas hingga 60 ton per hari. Syahriani menyebutkan bahwa penurunan volume sampah menuju TPA sudah mulai terlihat, meski masih ada tantangan seperti kondisi sampah yang terlalu basah atau bercampur serta kapasitas operasional TPST yang belum sepenuhnya optimal.

Bacaan Lainnya

Selain memperkuat fasilitas, DLH menilai partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam pengelolaan sampah. Berbagai program berbasis komunitas terus digencarkan, seperti bank sampah, kampung zero waste, kawasan bebas sampah (KBS) di setiap RW, hingga gerakan pengomposan rumah tangga. “Kami ingin setiap RW bisa mengelola sampahnya sendiri, mulai dari memilah, mengolah, sampai mengurangi sampah kemasan sekali pakai,” ucapnya.

Untuk mengatasi persoalan sampah liar dan pengawasan lapangan, DLH juga memperkuat sistem pelaporan warga melalui aplikasi dan jalur kelurahan. Menurut Syahriani, keterlibatan masyarakat bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai pengawas lingkungan. “Ketika warga ikut melapor, mengingatkan, dan bergerak, sinergi sosial kita dalam menjaga kebersihan kota makin kuat,” katanya.

DLH Kota Bandung telah menetapkan sejumlah target dalam lima tahun ke depan, mulai dari menurunkan residu sampah yang masuk ke TPA, meningkatkan kapasitas TPST dan produksi RDF, memperluas wilayah yang memiliki pengelolaan sampah mandiri, hingga membangun partisipasi aktif warga di tingkat RT maupun RW. Syahriani percaya bahwa peran masyarakat menjadi kunci utama. “Saat warga mulai memilah dari rumah, ikut bank sampah, mengompos, atau mendukung TPST, itu sudah sangat membantu mengurangi beban kota dan menjaga lingkungan,” tuturnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta dalam gerakan pengurangan sampah Kota Bandung. “Mari kita wujudkan Bandung yang lebih bersih, nyaman, dan berkelanjutan,” ajaknya.**

Pos terkait