Sidoarjo – Lonjakan harga minyak goreng subsidi Minyakita di Kabupaten Sidoarjo menjadi perhatian Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono. Dalam inspeksi langsung ke Pasar Krian, ia menemukan harga jual yang jauh di atas ketentuan pemerintah.
Harga Minyakita yang seharusnya berada di angka Rp15.700 per liter kini melonjak hingga Rp22.000. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan pangan.
Sebagai Kapoksi Komisi VII DPR-RI, Bambang Haryo menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap distribusi minyak goreng. Ia menilai adanya potensi penyimpangan dalam rantai pasok yang menyebabkan harga tidak terkendali.
“Pengawasan harus diperketat. Jangan sampai ada permainan harga yang merugikan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengkritisi lemahnya implementasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, yang seharusnya menjadi dasar dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang pokok.
Bambang Haryo mendesak pemerintah untuk segera melakukan audit menyeluruh dari hulu ke hilir. Menurutnya, transparansi dalam proses produksi dan distribusi sangat penting untuk memastikan harga tetap sesuai HET.
Ia menambahkan bahwa alasan kenaikan harga akibat biaya kemasan plastik tidak memiliki dasar kuat. Biaya tersebut dinilai terlalu kecil untuk mempengaruhi harga secara signifikan.
Selain fokus pada minyak goreng, ia juga mencatat adanya stabilitas pada komoditas lain di pasar. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kenaikan harga Minyakita disebabkan oleh faktor non-alami, seperti distribusi yang tidak efisien atau praktik spekulatif.
Sementara itu, pedagang setempat menyatakan bahwa kenaikan harga telah berlangsung beberapa waktu terakhir dan terus dikeluhkan oleh konsumen. Mereka berharap kehadiran DPR dapat mendorong solusi nyata dari pemerintah.
Bambang Haryo menutup kunjungannya dengan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini hingga harga minyak goreng kembali stabil dan terjangkau bagi masyarakat.





