Tak Ada Yang Sambut Arya Pada Acara Silaturahmi di PAM Kenjeran

Brilian°Surabaya – Senyum ceria pagi ini menyelimuti para santri panti asuhan Muhammadiyah (PAM) Kenjeran jalan Tambak Wedi Baru No 77 Surabaya menjadi hari yang spesial bagi semua santri, Sabtu (30 April 2022).

Pelukan hangat dan tangisan rindu dari para wali santri PAM Kenjeran nampak terasa menyentuh hati.Setahun memang santri putra dan putri tidak pernah bertemu dengan keluarga dan saudara.

Libur hari raya Idul Fitri 1443H ini dimanfaatkan betul oleh santri putra dan putri PAM Kenjeran untuk bertemu keluarga. Libur dimulai pada tanggal 28 April- 8 Mei 2022.

Semua keluarga dan saudara menuju asrama putra untuk menjemput dan menghadiri acara silaturahmi wali santri dengan pimpinan cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran, Majelis Pelayanan Sosial (MPS) cabang Muhammadiyah Kenjeran dan pengurus panti.

Saat itu Arya Saputra Nugraha yang siswi MI Muhammadiyah 25 kelas 1 ini tidak ada yang menghampiri dan memeluk seperti santri pada umumnya.Arya hanya duduk termenung sambil melihat teman-temannya yang bertemu dengan keluarga dan saudara masing-masing.

“Memang Arya berbeda dengan teman-temannya yang tinggal di asrama. Meskipun banyak yang yatim dan yatim piatu.Mereka masih di datangi kerabatnya untuk diajak pulang ke kampung halaman.” ucap Mahdalena kaur tata usaha.

Ibu Mahdalena Sintania menceritakan mengenai si Arya,” Berasal dari kota Kediri, Arya memang sudah menjadi anak yatim. Ayahnya Arya sudah meninggal sejak Arya masih kecil, sehingga Arya hanya hidup dengan Ibu dan kakaknya yang bernama Tegar yang saat ini juga tidak tahu keberadaannya”.

“Kemudian Ibu Arya nikah sirih dengan seorang laki-laki asal Surabaya dan tinggal di daerah sukolilo Kenjeran.Setelah menikah sirih Ibu Arya mengandung dari ayah sirihnya”.

“Pada saat melakukan proses kelahiran di RS Siti Khodijah daerah Sepanjang Sidoarjo beberapa tahun yang lalu.Ibu Arya lebih dulu telah dipanggil Allah untuk menghadap sang kholik informasinya juga meninggal karena terkena covid-19.Sehingga setelah itu Arya hanya tinggal dengan Ayah tirinya di rumah kos daerah sukolilo yang tidak seberapa besar”.

“Kehidupan Arya sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya saat Ibunya masih hidup.Bahkan berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari hampir tidak terpenuhi”.

“Setiap hari Arya pun terkadang makan terkadang tidak, juga tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kondisinya sangat memperihatinkan semakin kurus dan pakaian yang digunakan juga kurang layak”.

“Sehingga tetangga Arya juga merasa perihatin dengan kondisinya.Terkadang tetangganya pun ikut membantu semampunya dengan memberikan makan”.

“Akhirnya sebagian tetangga ternyata mengetahui, tidak jauh dari daerah tempat kos Arya ada petugas pengembang dana dari PAM Kenjeran yaitu Ibu Rosin yang juga tinggal di sukolilo”.

“Tetangga Arya pun melaporkan dan menceritakan bahwasannya Arya tidak pernah mendapatkan perhatian dari Ayah tirinya yang hingga pagi sampai malam sibuk bekerja”.

“Beberapa hari kemudian Ibu Rosin menemui Ayah Arya untuk memberikan saran untuk tinggal di asrama PAM Kenejeran.Ayahnyapun setuju dan mengiyakan”.

“Tetapi setelah itu tak pernah ada komunikasi lagi Ayah Arya dengan pihak panti.Informasinya Ayah Arya tidak tinggal di kos. Entah tak tahu kemana,” ucap Mahdalena sambil mengingat-ingat kisah Arya.

Pada saat libur memang santri PAM Kenjeran diliburkan untuk berkunjung ke rumah saudaranya bertujuan untuk silaturahmi.Selain humas panti mengingatkan melalui grup wasstap.Wali santri juga di ingatkan melalui telepon.

Dari 30 santri yang ada di PAM Kenjeran hanya terkendala Arya saja.Nomor telepon yang ditinggal oleh Ayahnya pun tak tersambung sampai saat ini.Sehingga terkait hal ini akan di bahas pada saat rapat kaur dan kepala.

Akhirnya solusinya Arya di suruh memilih, ingin liburan ke mana. Karena sebagian pengurus juga mudik ke daerah asal masing-masing seperti Lamongan, Malang, Madura, dan Kediri.

Setelah rapat usai, Arya dipanggil untuk menuju kantor kepala dibantu oleh pengasuh putra. Pada saat itu situasinya masih lengkap peserta rapat.

Arya dipanggil dan di tanya oleh kepala PAM Kenjeran Ustadz Wasyib Tirtanang, SH, MPd juga sebelumnya berpesan,” Siapapun yang dipilih Arya harus siap, karena memang ini menjadi sebuah tugas dan amanah kita yang harus kita laksanakan,” lanjutnya

“Arya besok ingin liburan di kemana Kalau sama Ustadz Wasib ke Lamongan, kalau sama Ibu Nur ke Malang, kalau sama Ustadz So’im ke Kediri, kalau sama Ustadz Faris ke Madura,” ucap Wasyib.

Arya pun menjawab “ke Ustadz Wasyib saja, ikut ke Lamongan” katanya.

Karena Arya dan santri putra-putri yang lain memang sudah akrab dengan Aira putri Ustadz Wasib yang juga tinggal di PAM Kenjeran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *