Bertahan Dari Kerasnya Hidup, Dengan Seuntai Koran

Brilian°Surabaya Di tengah padatnya kendaraan yang berhenti di traffic light (bangjo) Gubeng, tepatnya didepan hotel Sahid, seorang ibu lanjut usia menjajakan koran harian dengan duduk di pojokan bangjo kepada para pengendara. “Nama saya ibu Sariyati,” katanya kepada Brilian-news.id, Jum’at (03/12/2021)

Ibu asal Surabaya ini mulai Pukul 6 pagi, ibu Sariyati telah berangkat dari rumahnya dari Tambak Madu menuju perempatan lampu merah Gubeng Surabaya. Transportasi lyn (bemo) dipilihnya karena lebih merakyat dan ramah lingkungan, meski transportasi umum modern yang lebih cepat sudah banyak tersedia saat ini. Setelah pukul 5 sore, ibu Sariyati akan membereskan sisa korannya, lalu beranjak pulang.

“Sudah satu tahun lebih saya berjualan koran” ucap ibu sariyati, begitu dia biasa disapa, menjadi penjual koran. Di usianya yang telah menginjak 56 tahun, dia terpaksa berjualan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan merawat ibunya yang sudah tua umur 70 tahun lebih dan sakit-sakitan di rumah.

Bacaan Lainnya

Bagaimana dengan penghasilan ibu Sariyati? “kadang cuma dapat Rp 10.000 – 20.000 sehari, ” ungkapnya. Jika melihat kebutuhan sehari-hari sekarang, nominal segitu sangat tidak layak untuk biaya hidup.

Lanjut Sariyati, Sebelumnya dulu pernah jualan kopi di kotamadya, karena sudah tua tidak kuat untuk mendorong gerobak dan pernah jatuh sampai kaki tergelincir sakit, akhirnya gerobak saya jual karena sepi dan sekarang terpaksa jualan koran untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Lantaran usianya yang lanjut dan kesabarannya menjalani profesi itu di saat mestinya bisa hidup tenang di rumah, banyak pengendara yang membeli koran dari ibu Sariyati. Tak sedikit dari pengendara membeli karena iba. Ada pula yang membayar dengan uang lebih.

Padatnya lalu lintas dengan intensitas kendaraan yang kian meningkat, serta teriknya matahari tak menyurutkan semangat ibu Sariyati. Meskipun kadang, beberapa pengguna jalan sering merasa kasihan dengan memberi uang secara cuma-cuma kepada Sariyati.

Keadaan yang memang sudah renta menyentuh rasa kasihan banyak orang, lalu memberikan sejumlah uang berlebih kepadanya, tapi Sariyati selalu menolak dengan halus. Ia yakin masih merasa mampu bekerja dan tidak mau hanya menengadahkan tangan, lebih baik bekerja daripada meminta.

Patut diberi apresiasi, perjuangan Sariyati di usia senja ini dengan hidup menjadi tulang punggung keluarga, tak lelah untuk terus mandiri demi keberlangsungan hidupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *