Viral Penemuan Kala Candi di Ngasem Kediri

Viral Penemuan Kala Candi di Ngasem Kediri

Disparbud Kediri Sebut Tidak Bisa Dipindahkan

Brilian•Kediri – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri mengunjungi lokasi penemuan kala candi di Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem.

Kunjungan ini untuk memastikan adanya laporan dari masyarakat mengenai penemuan kala candi beberapa hari yang lalu.

Kala candi ini ditemukan oleh pekerja dari Dinas PUPR yang sedang melakukan revitalisasi sungai. Penemuan kala candi ini kemudian mengagetkan masyarakat dan viral di media sosial.

Kala yang ditemukan ini tidak jauh dari temuan batu purbakala yang disakralkan oleh masyarakat setempat yang dinamakan ‘Mbah Pentul’.

Untuk temuan ukuran kala candi yang diketemukan ini adalah panjang 170 dan lebar 100 cm.

Kemudian setelah ditinjau langsung oleh Disparbud Kediri, kala yang ditemukan ini ternyata bukan temuan baru.

Melainkan satu rangkaian dengan temuan kala yang diketemukan pada tahun 1996. Namun karena satu kala ini tertimbun di sungai, maka yang terlihat hanya ada satu kala candi.

Kasi Museum dan Purbakala Disparbud Kediri, Eko Priyanto menjelaskan untuk temuan kala ini sudah ada sejak tahun 1996.

“Jadi ada tiga temuan, pertama itu kala, kedua batuan yang berkaki, masing-masing sudah punya nomor register,” ungkap Eko Priyanto, Senin (8/11/2021).

Sementara itu, Eko menjelaskan, jika kala ini tidak bisa dipindahkan karena adanya kepercayaan masyarakat yang dihormati.

“Apabila dipindahkan, masyarakat bisa sampai ada yang kesurupan. Makanya tetap ada di sini,” jelas Eko.

Eko juga memastikan, bahwa kala candi ini berada dari abad 12, masa peralihan Jawa Tengah ke timuran.

Eko menyampaikan, jika kala ini dipasang di atas candi yang digunakan oleh masyarakat zaman dahulu sebagai simbol.

Sementara itu, pihak Disparbud Kabupaten Kediri tidak akan berdiam diri.

Sementara itu tokoh masyarakat setempat, Supriadi menyampaikan, jika kala yang ada di Desa Nambaan ini disakralkan oleh masyarakat.

Selanjutnya terkait adanya pemindahan kala dari sungai, Supriadi menyampaikan ini tidak mudah.

“Setelah ada temuan lagi, mau dipindah, kami harus rembukan dengan sesepuh desa,” pungkasnya mengakhiri perbincangan bersama awak media.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *