Kelompok Berisiko Jadi Prioritas Mendapat Vaksin Booster COVID-19 Tahun Depan

Pemberian vaksin pada lansia

Brilian•Jakarta – Pemberian vaksinasi COVID-19 hingga saat ini terus digencarkan oleh Pemerintah Indonesia. Walau begitu, pemerintah juga telah menyiapkan untuk memberi vaksin booster COVID-19 pada tahun depan.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa tahun depan masyarakat umum dengan kondisi tertentu bakal mendapatkan vaksin booster COVID-19. Budi menjelaskan bahwa yang dapat prioritas mendapatkan vaksin booster adalah kelompok berisiko.

Kelompok masyarakat yang berisiko tinggi yang dimaksud adalah tenaga kesehatan dan orang lanjut usia. Seperti diketahui, vaksin booster untuk tenaga kesehatan sudah berjalan. Lalu, mereka dengan defisiensi imunitas juga bakal dapat booster vaksin COVID-19. Hal ini juga sama seperti dilakukan tujuh negara lain yang sudah memberikan vaksin booster COVID-19 ke masyarakatnya.

“Sesuai saran WHO, booster akan diberikan ke kalangan masyarakat yang berisiko tinggi dan mengalami defisiensi imunitas yakni orang dengan HIV dan kanker,” kata Budi dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Saat ini pemerintah masih mengkaji vaksin COVID-19 mana yang bakal optimal untuk dijadikan booster. Kajian dilakukan lembaga penelitian bersama Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

“Bakal dilihat kombinasi mana yang paling baik. Apakah Sinovac dengan Sinovac atau Sinovac dengan Pfizer. Lalu, apakah AstraZeneca dengan AstraZenecca atau dengan Sinovac atau Pfizer,” jelas Budi.

Diharapkan penelitian ini bakal rampung akhir tahun sehingga bisa jadi basis dalam mengambil kebijakan vaksin booster COVID-19.

Menanti Vaksin COVID-19 untuk Anak 5-11 Tahun
Pemerintah saat ini juga tengah menanti hasil uji klinis dari tiga vaksin pada anak usia muda. Jika negara asal vaksin Sinovac, Sinopharm, dan Pfizer sudah menggunakan untuk anak 5-11, diharapkan Indonesia juga bisa sesegera mungkin juga menggunakannya.

“Sekarang kita bekerja sama dengan BPOM agar kita bisa mengeluarkan sesegera mungkin sesudah di negara asalnya digunakan untuk anak usia 5-11 tahun,” kata Budi.

Harapannya, uji klinis diharapkan tuntas pada tahun ini sehingga anak-anak sudah bisa mulai memperoleh vaksin pada tahun depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *